Gigi, always, forever (GIGI,2009)

Akhirnya saya punya material GIGI terbaru. Dalam rangka 11 tahun GIGI berkiprah dikancah musik Indonesia, grup asal Bandung ini kembali melepas album self titled yang memuat sembilan lagu baru. Awalnya penulis mengenal grup ini pada album “Dunia” (1995). Grup ini bercirikan rock yang nge-pop atau bisa dibilang sebaliknya, pop yang nge-rock, petikan gitar yang unik dan betotan bass yang tebal dan menonjol, dan mempunyai lirik yang tak biasa.

thomas-budjana-hendy-Armand

thomas-budjana-hendy-Armand

Seperti judul diatas, musik GIGI bagi saya adalah teman perjalanan dari masa remaja ke masa dewasa. Menemani suka dan duka. Dan juga merupakan salah satu dari sedikit grup di Indonesia yang mempunyai ciri khas sendiri dan unik, dan tidak mengikuti selera “pasar” musik pada saat itu – sampai saat sekarang. Mereka tetap bertahan dengan jenis musik yang mereka pilih, dan mampu membangun fans yang loyal. Dan saya termasuk diantaranya.

Album ini dibuka dengan penuh semangat pada lagu “Sumpah Mati”. Lagu ini mampu membuat kita bergoyang (cocok untuk live nih,GIGI?) yang bercerita tentang penyangkalan atau pembenaran ketertarikan seorang cowok terhadap cewek lainnya. Selanjutnya diteruskan dengan “Ya ya ya”, yang menjadi singel pertama album ini. Pikir penulis, lagu ini asyik juga kalau di mix ulang menjadi lagu disko (bagaimana,GIGI?), bertutur tentang penantian jawaban.

Setelah dibuai gelombang deras, lagu-pun mulai pelan pada “Cinta Lalu” yang sendu, lalu kembali deras pada lagu selanjutnya, “Munafik”,  berisi ungkapan kekecewaan GIGI terhadap seorang tokoh (?). Entahlah.

Lagu selanjutnya yang kembali sendu, “Restu Cinta”, GIGI mencoba bermegah-megah dengan pop yang dibalut buaian orkestra, terasa syahdu dan sendu, ditimpali sesekali Armand mendesah (atau menghayati?) pada akhir-akhir bait lirik lagu. Lagu ini kurang mendapat apresiasi bagi penulis, karena seakan lagu ini sengaja dibuat untuk “selera pasar”, atau suatu saat akan dinyanyikan artis musik lain dalam ruang lingkup yang lebih luas. Selain lagu “Ya ya ya” dan “My Facebook”, ada satu lagu yang bisa membuat penulis terhanyut, “Dan Sekarang” (Penulis berharap lagu ini dapat dijadikan singel selanjutnya dan dibuatkan videoklipnya). Dibuka dentingan piano yang membuat bulu roma berdiri dan masuk pada reffrain yang “rumit”, tidak selaras dengan awalan lagu, bercerita tentang kilas balik sepasang kekasih disuatu kota.

Secara umum, lirik GIGI masih bernuansa cinta. Dan hanya satu lagu yang penulis catat berbeda yaitu lagu “Munafik”.

Untuk penilaian, penulis memberi 3.25 dari 5 bintang (3.25/5 stars).

Tracklist :

1. Sumpah Mati

2. Ya Ya Ya

3. Cinta Lalu

4. Munafik

5. Restu Cinta

6. Harga Kesetiaan

7. Dan Sekarang

8. Anugrah Dari Cinta

9. My Facebook

GIGI adalah :

-         Armand Maulana (vokal)

-         Dewa Budjana (gitar)

-         Thomas Ramdhan (bass)

-         Gusti Hendy (drum)

The New Game of Mudvayne

Mudvayne adalah grup metal yang terdiri dari empat orang, terbentuk tahun 1996. Grup ini menuai sukses dan mendapat cukup perhatian dengan keluarnya album perdana bertitel L.D 50 dengan singel Dig, Death Blooms,dan Nothing to Gein. Dan penampilan merekapun cukup mencolok dengan memakai make-up menutupi wajah mereka, kemudian ciri ini ditinggalkan dan merekapun percaya diri menampakkan penampilan asli mereka.

 

Pada November 2008, grup ini merilis album kelima mereka berjudul The New Game, yang oleh Dave Fortman (produser) disebutkan bahwa album ini akan disukai oleh pendengar Mudvayne. Band ini pun lebih berasa rock daripada album album awal yang lebih cendrung metal ditingkahi sesekali repetan Chad Gray (vokalis). Di album ini, Chad terkadang lebih sering “bernyanyi” daripada sekedar berteriak-teriak. Dan permainan gitar Greg Tribbett pun disini lebih terdengar variatif. Di seksi bass (Ryan Martinie) dan drum (Matt McDonough) cendrung memainkan pola yang sama seperti album terdahulu, cabikan bass yang cendrung funk dan hentakan dobel kick.

 

The New Game dimulai dengan menarik pada lagu Fish Out Of Water, dimana cabikan bass Ryan dan kocokan gitar Greg saling isi dan bersahutan. Polanya adalah lagu ini pelan diawal dan keras dibagian reffrain. Penempatan lagu yang tepat sebagai awal yang baik. Pola ini kembali diulang pada singel pertama dari album ini, Do What You Do, yang menurut penulis sangat layak menjadi singel pertama. Mudvayne pun menurunkan tempo pada lagu kelima, A Cinderella Story. Dan album ini ditutup dengan lagu bertenaga, We the People.

Secara keseluruhan, Mudvayne telah menurunkan tempo dalam bermain musik. Ini terasa pada album ini. Beberapa lagu bertempo mid dan slow. Awal kejenuhan? Ataukah Mudvayne sudah merasa begitu “dewasa” mengingat bertambahnya usia para personilnya, sehingga mereka bermain lebih pelan? Atau bisa jadi Mudvayne ingin memperluas ruang lingkup pendengarnya dengan kesadaran terdapat perubahan pola dari musik mereka, dari metal menuju akar rock.

 

Terlepas dari itu, bagi penggemar Mudvayne, album ini memang masih terdapat beberapa lagu yang bisa memuaskan dahaga mereka. Dan bagi pendengar baru pun akan “wellcome” dengan album ini.

the new game 

Untuk rating, penulis memberi 3 dari 5 bintang (3/5 stars).

 

Tracklist:

   1. “Fish Out of Water

   2. “Do What You Do”

   3. “A New Game”

   4. “Have It Your Way”

   5. “A Cinderella Story”

   6. “The Hate in Me”

   7. “Scarlet Letters”

   8. “Dull Boy”

   9. “Same Ol’” 9

  10. “Never Enough”

  11. “We the People”

 

Personil :

    * Chad Gray − vocals

    * Greg Tribbett − guitars, backing vocals

    * Ryan Martinie − bass

    * Matthew McDonough − drums

Soulfly Conquer

soulflyartSoulfy – Conquer (2008)

Entah kenapa saya terlalu telat membahas album terbaru band metal ini. Padahal saya sudah mendapatkan material album ini sudah cukup lama (Juli 2008). Apalagi band ini merupakan salah satu band favorit saya (dari nama band inilah nama email penulis ditetapkan). Saya awalnya adalah penggemar Sepultura ketika masih bersama Max Cavalera (vokal, gitar). Tapi ketika Max cabut, saya hanya mengikuti album Sepultura setelah Roots hanya pada album “Nations”.

Baiklah, awalnya saya mengetahui mengenai Soulfly pada album kedua mereka yang berjudul “Primitive” yang saya pikir merupakan proyek solo dari seorang Max Cavalera untuk “mengisi waktu luang”nya setelah cabut dari Sepultura. Ini bisa dilihat dari banyaknya musisi-musisi yang memberi kontribusi mulai dari album pertama, walaupun akhirnya mulai stabil sejak album “Dark Ages”(2005) sebagai “full team” band. Max pun pernah menjelaskan bahwa ia menginginkan menggunakan musisi yang berbeda disetiap album. Terakhir Soulfly digawangi oleh Max (Vokal, gitar), Marc Rizzo (gitar), Bobby Burns (bass) dan Joe Nunez (drums). Primitive yang menurut saya sangat menarik dari seorang Max Cavalera adalah perubahan dari core music nya dari metal ke berbagai campuran musik yang disisipi sampling, programming, dan world music. Selanjutnya tak putus saya memiliki material Soulfly setelahnya mulai dari “3”(2002), “Prophecy”(2004), “Dark Ages”(2005) dan terakhir Conquer (2008). Dan Soulfly pun tampaknya mulai kembali ke core music dijaman Max bersama Sepultura merekam Roots. Mungkin ini pengaruh mulai stabilnya formasi band ini sejak tahun 2005.

Album Conquer dibuka dengan awal yang menarik, Blood,Fire,War,Hate,yang seakan menegaskan kembalinya Max ke musik asalnya (thrash metal). Saya berpikir bahwa beruntung Max mempunyai teman band semacam Marc Rizzo (mantan Ill Nino), riff-riff gitar orang ini dahsyat ditambah lagi pengaruh musik latin dari gaya permainan Marc memberi nuansa tersendiri pada musik Soulfly. Selanjutnya pendengar tak dibiarkan tenang berlama-lama, Unleash-pun mengebrak telinga dan membuat kita masih ber-head banging. Di lagu ini, Max saling bersahut-sahutan secara sangar dengan David Peters dan saat diklimaks, tempo tiba-tiba menjadi tenang sesaat sebelum digempur lagi dengan beat-beat yang menghentak. Sungguh lagu yang menarik. Dan beberapa lagu yang menarik dialbum ini diantaranya Enemy Ghost dan Touching the Void. Dan tak lupa, Soulfly selalu menyisipkan lagu instrumental disetiap albumnya yang diberi deret angka dimulai dari album pertama, sekarang berjudul Soulfly VI. Secara umum, sebelas lagu dalam album ini penulis rating dengan 3.25/5 bintang (3.25 of 5 stars). Mungkin penulis terlalu antusias memberi nilai bisa dibilang demikian. Tapi bagi penggemar Soulfly dan thrash metal tak akan kecewa dengan album ini.

Track list:

- Blood,Fire,War,Hate

- Unleash

-Paranoia

-Warmageddon

- Enemy Ghost

- Rough

- Fall of Cycophants

- Doom

- For Those About to Rot

- Touching the Void

- Soulfly VI

Sumber : wikipedia.org dan lainnya

Lacuna Coil (Shallow Life,2009)

shallow lifeDiawali tantangan dari salah seorang pembaca yang ingin penulis menulis tentang rock band beraliran gothic semacam Nightwish, Evanescene, Epica, dst. Terimakasih, dan penulis mulai iseng-iseng mencari dan mendapatkan material grup band beraliran gothic tsb. Sampai tiba saatnya penulis menemukan Lacuna Coil.
Band gothic rock/Alternative Rock asal Italia ini mengeluarkan album baru yang bertitel Shallow Life , dirilis pada bulan April 2009, dan penulis sungguh penasaran apa sih garis besar dari band band semacam ini.
Sebagai latar, band ini terinspirasi penampilan dan musik gothic. Dan personilnya dikenal sebagai komposer lagu dengan tempo sedang (midtempo) yang didalamnya terdapat bebunyian gitar yang disisipi bebunyian dari kibor, dan duet vokal yang kontras (vokalis cowok dan cewek) yang menghasilkan musik yang melodius. Kebanyakan dari material lagu Lacuna Coil pada saat sekarang terasa lebih tebal (pengartian dari kata heavy) dengan nada yang rendah.
Baiklah, saat tulisan ini dibuat, penulis sedang intens mendengarkan album terbaru Lacuna Coil ini (selanjutnya disingkat LC aja ya?). Diawali dengan lagu berjudul Survive yang penulis anggap sungguh menarik. Lagu ini tampaknya memang dimaksudkan sebagai pembuka yang “manis” (dalam tanda kutip, karena sebenarnya lagu ini cukup menghentak). Penulis langsung nyetel dengan lagu ini, duo vokalis dari LC saling bersahut-sahutan, dobel kick drum yang menyeruak pada bagian-bagian tertentu dan efek dari kibor sungguh membuat kepala penulis bergoyang. Bahkan anak penulis pun menyukai lagu ini. Lalu, intensitas musik sedikit diturunkan pada lagu kedua, I won’t Tell You, yang penulis pikir lebih cenderung disebut sebagai alternative rock, dan terasa agak datar dan biasa-biasa saja. Lalu intensitas kembali diturunkan pada lagu ketiga (Not Enough) yang menurut penulis sungguh “baik”.

Singel pertama dari album ini, Spellbound, dibuka dengan petikan gitar dan masuk diiringi ritem gitar dan dentingan kibor. Untuk sebagai singel awal, Spellbound termasuk lumayan tapi tidak begitu istimewa. Dialbum ini, LC menyelipkan lagu “slow” dan tenang berjudul Wide Awake dan Shallow Life. Lumayan sebagai penyegar diantara lagu-lagu yang menghentak.
Akhirnya, penulis dapat menarik garis besar dari album ini. Album ini lebih cenderung disebut berasa Alternative Rock (secara umum) dibandingkan gothic rock. Anda tahu Linkin Park? Coba bayangkan seandainya duo vokalis LC ( Christina Scabbia dan Andrea Ferro) diganti suara Chester B dan Mike Shinoda (of Linkin Park), pasti anda pikir ini adalah album Linkin Park! Apakah ini pengaruh dari produser album ini (Don Gilmore) yang telah menangani atau membesut album-album Linkin Park? Bisa jadi…

Tracklist :
- Survive
- I Won’t Tell You
- Not Enough
- I’m Not Afraid
- I Like It
- Underdog
- The Pain
- Spellbound
- Wide Awake
- The Maze
- Shallow Life
- Unchained

Untuk nilai, penulis memberi 3/5 bintang (3/5 stars), alias lumayanlah…

Personil list
Cristina Scabbia – vokal
Andrea Ferro – vokal
Cristiano “Pizza” Migliore – gitar
Marco “Maus” Biazzi – gitar
Marco Coti Zelati – bass, keyboards
Cristiano “Criz” Mozzati – drums, percussion

Sumber : wikipedia.org dan lain-lain

Salute!

Sebenarnya saya tengah membuat draft untuk tulisan berikutnya mengenai rock band “Oasis”. Tapi setelah mendapatkan album “Koil”, band rock industrial negeri sendiri, saya jadi tertarik untuk berkomentar : Salut! Ngga nyangka bahwa ada band bagus terselip di Indonesia…

Nanti saya kasih tahu resensinya, soalnya lagi asyik mendengarkan Koil…

See You Soon